William Sabandar Dorong PIKI Ambil Peran Strategis sebagai Penjaga Etika Publik
Jakarta – Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) diharapkan tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya kaum intelektual Kristen, tetapi juga mampu berkontribusi sebagai penjaga etika publik dan pemberi arah moral dalam kehidupan berbangsa.
Harapan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Nasional Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PNPS GMKI) William Sabandar saat menghadiri pelantikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PIKI periode 2026–2031 di GPIB Paulus, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5).
Menurut William, keberadaan PIKI memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia. Organisasi tersebut lahir dari tradisi pemikiran dan pengabdian yang telah dibangun para pendiri bangsa, termasuk tokoh nasional Johannes Leimena yang turut menggagas lahirnya PIKI pada 1963.
“PIKI memiliki tanggung jawab historis untuk terus menjaga semangat kebangsaan dan memberikan kontribusi bagi kehidupan demokrasi serta pembangunan nasional,” kata William dalam keterangannya.
Ia mengatakan hubungan antara GMKI dan PIKI tidak dapat dipisahkan karena keduanya lahir dari semangat yang sama, yakni membangun Indonesia berdasarkan nilai-nilai keimanan, kebangsaan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, William juga menyinggung pesan Ketua Umum PGI Pendeta Jacky Manuputty yang mengajak PIKI menjadi “garam dan terang” bagi bangsa. Menurutnya, pesan tersebut relevan dengan kondisi Indonesia yang membutuhkan lebih banyak ruang dialog, keteladanan, dan kepemimpinan moral.
“Di tengah berbagai dinamika sosial, politik, dan ekonomi, bangsa ini memerlukan kelompok-kelompok masyarakat yang mampu menjaga akal sehat publik dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Pelantikan DPP PIKI periode 2026–2031 menandai dimulainya kepemimpinan baru di bawah Ketua Umum Maruarar Sirait dan Sekretaris Jenderal Benyamin Patondok.
Dalam pidato perdananya sebagai Ketua Umum PIKI, Maruarar mengajak seluruh jajaran organisasi memperkuat soliditas internal sekaligus memperluas peran organisasi dalam mendukung pembangunan nasional.
“Kita harus membangun kekompakan dan persatuan. Dengan kebersamaan, organisasi akan memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Maruarar.
Ia menegaskan PIKI akan mengambil bagian dalam berbagai isu strategis nasional, mulai dari pembangunan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga perlindungan lingkungan hidup.
Selain itu, Maruarar menilai keterbukaan terhadap kritik dan masukan menjadi salah satu syarat penting bagi organisasi intelektual agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Pada periode kepengurusan ini, PIKI menargetkan pembentukan kepengurusan di seluruh 38 provinsi dan sedikitnya 300 kabupaten/kota sebelum tahun 2028.
Acara pelantikan turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional, antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari, serta sejumlah tokoh dari kalangan akademisi, dunia usaha, gereja, dan organisasi kemasyarakatan.
William menyatakan PNPS GMKI siap mendukung langkah-langkah yang akan ditempuh kepengurusan baru PIKI dalam memperkuat kontribusi intelektual Kristen bagi pembangunan bangsa.
Menurut dia, kolaborasi antara generasi senior dan kader muda menjadi modal penting untuk menjawab berbagai tantangan nasional di masa depan.
“Yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan hanya orang-orang pintar, tetapi juga mereka yang memiliki integritas, keberanian moral, dan komitmen untuk bekerja bagi kepentingan bangsa,” kata William.







