Ketua PGLII Kota Bandung: “Pentakosta Harus Menjadi Api Persatuan dan Kebangunan Gereja”
“Roh Kudus tidak dicurahkan untuk membuat gereja diam, tetapi untuk membuat gereja bergerak membawa terang Kristus.”
Bandung, 24 Mei 2026 — Menjelang peringatan Hari Pentakosta yang diperingati 10 hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bandung, Pdt. Mulianto Halim, M.Th., menyampaikan pesan reflektif tentang pentingnya gereja kembali hidup dalam semangat Pentakosta yang sejati.
Dalam wawancara bersama Tim Media Pewarna Indonesia Jawa Barat, Pdt. Mulianto Halim menegaskan bahwa Pentakosta bukan hanya momentum historis gereja, melainkan titik lahirnya gereja yang bergerak dalam kuasa Roh Kudus, persatuan tubuh Kristus, dan semangat penginjilan.
Selain menjabat sebagai Ketua PGLII Kota Bandung, Pdt. Mulianto Halim, M.Th. juga melayani sebagai Sekretaris Umum Sinode GKKI serta Gembala Pembina GKKI COCCC yang beralamat di Bandung Textile Center (BTC) Lantai 2, Jl. Kebon Jati No. 44–88, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jawa Barat.
Kiprahnya dalam pelayanan lintas gereja dinilai aktif mendorong penguatan persatuan tubuh Kristus, pembinaan rohani, serta pengembangan pelayanan penginjilan di Kota Bandung dan sekitarnya.
Menurutnya, gereja masa kini menghadapi tantangan besar ketika mulai sibuk dengan aktivitas internal, tetapi perlahan kehilangan kepekaan rohani terhadap kebutuhan jiwa-jiwa yang harus dijangkau.
“Pentakosta bukan sekadar perayaan tahunan gereja. Pentakosta adalah panggilan agar gereja tetap hidup, bergerak, dan menjadi terang bagi dunia,” ujarnya.
Ia menilai bahwa gereja akan kehilangan pengaruh rohaninya ketika hanya berfokus pada rutinitas pelayanan tanpa lagi memiliki kerinduan untuk membawa kebangunan rohani bagi generasi hari ini.
“Gereja yang dipenuhi Roh Kudus seharusnya tidak hanya ramai di dalam gedung,
tetapi juga berdampak bagi dunia di luar gereja.”
Dalam wawancara tersebut, Pdt. Mulianto Halim juga menekankan pentingnya persatuan gereja di tengah perbedaan denominasi dan tantangan zaman.
Menurutnya, Hari Pentakosta mengingatkan gereja bahwa Roh Kudus dicurahkan bukan untuk memecah, tetapi untuk mempersatukan tubuh Kristus dalam misi memenangkan jiwa.
“Pentakosta harus menjadi api persatuan gereja. Ketika gereja bersatu dalam kasih dan doa, maka dunia akan melihat Kristus melalui kehidupan gereja,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya hidup dari cerita kebangunan rohani masa lalu tanpa menghadirkan dampak nyata bagi generasi masa kini.
“Kebangunan rohani sejati bukan hanya memenuhi mimbar gereja,
tetapi memenuhi dunia dengan kasih dan kuasa Kristus.”
Pernyataan tersebut kini ramai menjadi perhatian berbagai kalangan gereja menjelang Hari Pentakosta karena dianggap menjadi pengingat penting agar gereja kembali kepada inti pelayanan yang sesungguhnya.
Di akhir wawancara, Pdt. Mulianto Halim menyampaikan pesan khusus bagi gereja-gereja di Indonesia.
“Selama doa masih dinaikkan, selama Roh Kudus tetap dicari, dan selama Injil tetap diberitakan, maka gereja akan tetap menjadi harapan bagi dunia,” ungkapnya.
Momentum Hari Pentakosta tahun ini diharapkan menjadi titik kebangunan baru bagi gereja-gereja untuk kembali hidup dalam kuasa Roh Kudus, menjaga persatuan tubuh Kristus, dan terus bergerak memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah.
“Pentakosta bukan hanya tentang turunnya Roh Kudus.
Pentakosta adalah tentang gereja yang bangkit membawa perubahan.”
— Tim Media Pewarna Indonesia Jawa Barat



